
Ancaman bahaya galon ber BPA
Salah satu pertanyaan krusial terkait dengan air minum dalam kemasan (AMDK) galon plastik adalah, manakah yang lebih berisiko bagi kesehatan manusia: galon polikarbonat (PC) plastik keras dengan kandungan bisphenol-A (BPA) atau galon yang menggunakan plastik polyethylene terephthalate (PET)? Baik galon polikarbonat maupun PET memiliki kelebihan dan kekurangan yang berhubungan dengan risiko kesehatan manusia.
Dalam konteks produk makanan dan minuman, kemasan polikarbonat, yang dikenal sebagai plastik keras, biasanya digunakan untuk galon isi ulang air minum berukuran 19 liter. Sementara itu, kemasan PET umumnya digunakan untuk botol air minum berukuran 300 mililiter hingga 1 liter dan galon 15 liter.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa BPA memiliki dampak negatif pada kesehatan melalui gangguan hormonal, terutama hormon estrogen. BPA terkait dengan gangguan sistem reproduksi pada pria dan wanita, diabetes, obesitas, gangguan kardiovaskular, gangguan ginjal, kanker, dan masalah kesehatan mental. Di sisi lain, PET, yang terbuat dari bahan seperti etilen glikol, juga memiliki potensi risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
Efek kesehatan dari kedua jenis plastik ini dapat terjadi ketika bahan kimia dalam plastik tersebut bermigrasi ke dalam makanan dan minuman yang dikemas, terutama jika terpapar sinar matahari langsung dalam waktu lama atau disimpan dekat dengan benda berbau tajam.
Bagaimana pendapat para ahli?

Profesor Dr. Andi Cahyo Kumoro, Guru Besar Teknik Kimia Universitas Diponegoro, menguatkan pandangan ini dengan menekankan bahwa pelepasan BPA dari galon bisa terjadi jika galon tergores atau terpapar sinar matahari langsung. Dampaknya dapat mencakup gangguan pada sistem saraf dan perilaku anak, serta risiko keguguran pada ibu hamil.
Sejak awal abad ke-21, sejumlah negara mulai membatasi atau melarang penggunaan kemasan plastik polikarbonat karena kandungan BPA di dalamnya. Misalnya, Uni Eropa telah menurunkan batas migrasi BPA, dan beberapa negara serta bagian di Amerika Serikat bahkan melarang penggunaan BPA pada kemasan makanan, termasuk air minum. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merencanakan peraturan pelabelan BPA pada air minum dalam kemasan galon BPA, memaksa produsen untuk mencantumkan label “Berpotensi mengandung BPA” pada produknya.
Meskipun ada penolakan dari industri air minum dalam kemasan terhadap rencana pelabelan ini, banyak pihak mendukung langkah BPOM. Pandu Riono, seorang epidemiolog dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa langkah ini bertujuan melindungi konsumen dan produsen dari potensi tuntutan hukum di masa mendatang.
Kekhawatiran terhadap dampak BPA juga disuarakan oleh Nia Umar dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan dr. Irfan Dzakir Nugroho, spesialis anak dan anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Mereka menyoroti risiko tinggi BPA terhadap kesehatan bayi, ibu hamil, dan anak-anak, termasuk dampak pada perkembangan otak, kesehatan mental, dan risiko penyakit seperti kanker payudara dan obesitas.
Sementara itu, plastik PET, yang mengandung etilen glikol, tidak memiliki regulasi pelabelan terkait potensi risiko kesehatannya. Meskipun ada penelitian tentang migrasi etilen glikol dari kemasan PET, bahayanya cenderung lebih rendah dibandingkan dengan galon BPA. Ahli kimia Frank Welle dari University of Freiburg, Jerman, menekankan bahwa PET lebih inert atau tidak mudah mengalami perubahan kimia, dan migrasi etilen glikol dari kemasan PET berada di bawah batas standar yang ditetapkan oleh WHO.
Dengan demikian, perdebatan terus berlanjut antara risiko kesehatan yang terkait dengan galon plastik polikarbonat (BPA) dan plastik PET, sementara otoritas regulasi berusaha menetapkan langkah-langkah untuk melindungi konsumen dari potensi bahaya ini.
Apakah BPA berbahaya untuk kesehatan mata?
Meskipun BPA (bisphenol-A) pada dasarnya dikenal karena dampaknya terhadap sistem hormonal dan hubungannya dengan beberapa masalah kesehatan seperti gangguan reproduksi, diabetes, obesitas, gangguan kardiovaskular, dan risiko kanker, belum ada bukti kuat yang secara langsung mengaitkan BPA dengan masalah kesehatan mata.
Dalam literatur medis dan penelitian ilmiah, perhatian utama terhadap BPA cenderung fokus pada pengaruhnya terhadap sistem hormonal dan organ tubuh tertentu, seperti sistem reproduksi, sistem kardiovaskular, dan sistem saraf. Meskipun mata adalah organ penting, keterkaitan langsung antara paparan BPA dan masalah kesehatan mata belum sepenuhnya dipahami atau ditetapkan.
Namun demikian, perlu diingat bahwa penelitian tentang dampak kesehatan BPA masih aktif dan terus berkembang. Meskipun belum ada bukti yang meyakinkan tentang dampak BPA pada kesehatan mata, tetap penting untuk mengikuti perkembangan penelitian dan mendengarkan saran dari otoritas kesehatan terkait.
Jika Anda memiliki kekhawatiran khusus tentang kesehatan mata dan paparan BPA, disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan, terutama ahli mata atau dokter yang dapat memberikan informasi yang lebih rinci dan terkait dengan kondisi spesifik Anda.
