
Halo #cahayapeople, sudah lazim saat ini para lansia menggunakan kacamata untuk bantu penglihatan mereka. Bahkan usia 30 ke atas sudah sewajarnya menggunakan alat bantu penglihatan seperti kacamata minus dan kacamata baca untuk membaca. Namun tahukah #cahayapeople bahwa diatas usia 60 kualitas pandangan mata sudah memburuk bahkan sulit kembali normal dengan kacamata sekalipun? Lalu apa jadinya jika seseorang dengan usia lebih dari 88 tahun mendapatkan penglihatan selayaknya mata normal?
“Saya sangat senang menjadi orang pertama yang mendapatkan implan ini”, begitulah ungkapan seorang perempuan beusia 88 tahun yang mendapatkan implan retina setelah sebelumnya didiagnosis menderita Age Macula Degeneration (AMD). Pemasangan implan ini terjadi di Inggris tepatnya di RS Mata Moorfields.
Kondisi Age Macula Degeneration atau AMD merupakan jenis penyakit degenratif pada mata yang belum ada obatnya. Sebagian besar penderita AMD adalah orang lanjut usia di atas 80 tahun.
Dengan mengembangkan sebuah program yang melibatkan komputer dan algoritma kecerdasan buatan alat ini ditempatkan di tubuh pasien. Microchip dengan ukuran 2 milimeter ditempatkan di mata pasien kemudian diminta untuk menggunakan kacamata yang terhubung dengan komputer yang ditempatkan di pinggang pasien. Komputer dan kacamata tersebut kemudian menggantikan fungsi mata pada pasien.
Implan retina dengan mikro cip ini memberikan harapan bagi pasien Age Macula Degeneration dan Geographic atrofi atau GA untuk dapat melihat dengan metode berbeda. Hingga kini, sekitar 6 persen manula mengalami GA dengan gejala yang hampir sama dengan AMD. Keluhan yang umum terjadi adalah cairan mata di balik retina mengering dan merusak jaringan di sekitar retina. Sama seperti AMD yang belum ada obatnya, ini pula yang terjadi pada pasien GA.
Dalam keterangan tertulis, Rumah Sakit Mata Moorfields menyatakan, cara kerja retina buatan ini melibatkan algoritma kecerdasan buatan yang memproses dan menginstruksikan kacamata tentang apa yang harus difokuskan. Kacamata kemudian memproyeksikan gambar sebagai sinar infra-merah melalui mata, kemudian data tersebut masuk dalam chip, dan mengubahnya menjadi sinyal listrik yang dapat ditangkap otak. Oleh otak, sinyal listrik itu ditangkap seolah penglihatan alami.
Dilansir dari Tempo.co, Konsultan Ahli Bedah Vitreoretinal Rumah Sakit Mata Moorfields, Mahi Muqit mengatakan, terobosan teknologi ini amat bermanfaat bagi pasien yang menderita kehilangan penglihatan karena AMD. “Keberhasilan operasi dan bukti yang dikumpulkan melalui studi klinis menentukan ada potensi dalam metode perawatan ini,” ujarnya.
